Hal-hal
kecil semacam itu akhirnya terbengkalai dan sampai menumpuk, hingga
menjadi masalah besar. Di sebelah rumah orang
pemalas itu, tumbuh
sebuah pohon kecil yang tangkainya penuh duri tajam. Pohon yang tidak
memiliki buah dan tidak memiliki keistimewaan apapun kecuali durinya
itu, cukup mengggangu, mengingat setiap hari selalu ada pejalan kaki
yang terkena durinya.
Banyak baju pejalan kaki yang robek
dan rusak terkena duri pohon kecil itu. Mereka setiap hari
mengingatkan sang
pemalas itu untuk mengurus pohon itu atau menebangnya.
Si pemalas itu menjawab, "Tentu, saya akan segera menebangnya." Namun,
keesokan harinya, pohon itu masih berada pada tempatnya, dan kembali
para pejalan kaki mengingatkan si pemalas itu. Jawaban darinya tetap
sama bahwa ia akan segera menebangnya.
Hari, pekan, dan
bulan-bulan berlalu, pohon kecil itu tumbuh semakin besar dan semakin
kuat. Duri pohon itu semakin banyak dan lebih kuat. Adapun si pemalas
itu semakin hari semakin malas. Menebang pohon berduri yang telah
tumbuh besar itu memerlukan kekuatan dan tenaga banyak yang jelas di
luar kemampuan si pemalas itu.
Pada akhirnya warga geram
dan memperingatkan si pemalas itu bahwa jika pohon itu tidak segera
ditebang maka warga akan mengadukannya kepada pengadilan. Si
pemalas
tetap malas dan tidak berbuat apa-apa. Akhirnya warga pun mengadukan si
pemalas itu ke pengadilan. Ia pun dipanggil untuk menjawab pertanyaan
di pengadilan.
Hakim bertanya, "Wahai orang yang terkenal
pemalas, mengapa kau tidak menebang
pohon di samping rumahmu itu?
Apakah kau tidak tahu bahwa ulahmu telah mengganggu warga? Apakah kau
tidak tahu betapa banyak pakaian pejalan kaki yang telah rusak dan
terkoyak akibat pohon di samping rumahmu? Mengapa kau tidak
memperhatikan keluhan masyarakat dan tidak segera menebang pohon itu?"
Si
pemalas itu menjawab, "Saya sudah katakan kepada mereka bahwa saya akan segera menebangnya."
Hakim
kembali bertanya, "Akan tetapi warga menyatakan bahwa mereka telah
lama mengingatkan hal ini kepadamu, namun kau selalu menunda.
Sedemikian lama kau menundanya hingga pohon kecil itu kini telah tumbuh
besar."
Si
pemalas itu menjawab, "Baik tuan hakim, aku akan menebangnya besok."
Hakim
berkata, "Janganlah kau bermalas-malasan? Mengapa harus besok?
Kerjakan hari ini juga sehingga masyarakat merasa nyaman. Aku ingin
memberimu nasehat, jangan kau tunda pekerjaan sehari-harimu.
Dengarkanlah nasehatku dan jangan kau tunda pekerjaan kecil atau besar.
Maka pergilah kau sekarang dan tebanglah pohon itu sekarang juga."
Beberapa
orang yang mengadukan
pemalas itu ke pengadilan, mengolok-oloknya.
Salah satu di antara mereka berkata, "Orang ini, sejauh yang aku
ketahui, ia tidak akan pernah berubah. Ia tidak akan mampu menebang
pohon itu sendirian. Sepertinya kita harus membantunya, agar masyarakat
tenang."
Si
pemalas itu tersinggung mendengar ucapan itu
dan berkata, "Jika kau menilaiku seperti itu, maka sekarang juga aku
akan pulang menebang pohon itu sendirian."
Si
pemalas itu
bergegas menuju rumahnya dan mengambil kapaknya. Beberapa pukulan kapak
diayunkannya ke batang pohon itu. Alangkah terkejutnya ia, pohon itu
seakan terbuat dari besi, ia hanya dapat mencuil sedikit dari
batangnya. Si
pemalas itu ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukannya
sendirian, akhirnya ia berusaha keras menebangnya. Keringat bercucuran
deras, dan setelah beberapa lama dan dengan menguras banyak tenaga, si
pemalas itu akhirnya berhasil menebang pohon itu.
Setelah
itu, ia duduk sejenak dengan nafas terengah-engah. Di depan matanya,
batang pohon itu telah tumbang, akan tetapi hatinya belum tenang,
karena ia masih harus mencabut akar pohon itu. Wajah
pemalas itu pun
tampak pucat, karena ia tahu berikutnya, akan lebih susah daripada
menebang pohon itu. Sementara ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk
mencabut akar pohon itu.
Dalam hatinya ia berkata,
"Betapa malasnya aku, jika sejak lama aku tebang pohon itu, hanya
beberapa kali pukulan aku tentu dapat merobohkan pohon itu. Andai saja
aku mendengarkan peringatan warga, tentu aku tidak perlu kelelahan
seperti sekarang ini."
Si
pemalas itu mengutuk dirinya
karena kemalasannya telah membuatnya sengsara sekarang. Ia berjanji
tidak akan mengulangi kemalasannya.
Setelah sejenak
beristirahat menghapus peluh, dengan tubuh lemas, ia berusaha bangkit
untuk kembali menyelesaikan tugasnya mengangkat akar pohon itu. Dengan
menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya ia mulai menggali tanah.
Saat
itulah beberapa tetangganya datang membawa cangkul. Salah satu
tetangganya berkata, "Kau telah menebang pohon itu, dan kami akan
membantumu mencabut akarnya. Lebih baik kau beristirahat."
Saat
itu, si
pemalas itu duduk dan dalam hati ia berterima kasih kepada
tetangganya dan ia bersumpah
tidak akan bermalas-malasan lagi.